Lompat ke konten
Home » Blog » Broken Heart Syndrome: Benarkah Patah Hati Bisa Membuat Jantung Sakit?

Broken Heart Syndrome: Benarkah Patah Hati Bisa Membuat Jantung Sakit?

Pernahkah Anda mendengar istilah “broken heart” untuk menggambarkan rasa sakit setelah kehilangan atau mengalami perpisahan? Ternyata, patah hati bukan hanya ungkapan emosional. Dalam kondisi tertentu, stres emosional yang berat benar-benar dapat memengaruhi fungsi jantung.

Kondisi ini dikenal sebagai Broken Heart Syndrome atau Takotsubo cardiomyopathy, yaitu gangguan sementara pada fungsi jantung yang dapat muncul setelah seseorang mengalami stres emosional atau fisik yang berat.

Apa Itu Broken Heart Syndrome?

Broken Heart Syndrome terjadi ketika bagian jantung mengalami perubahan fungsi setelah tubuh menghadapi stres yang ekstrem. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala yang menyerupai serangan jantung, terutama nyeri dada dan sesak napas.

Pemicu tidak selalu berkaitan dengan percintaan. Kehilangan orang yang dicintai, pertengkaran hebat, masalah keuangan, kejadian traumatis, operasi, penyakit serius, maupun tekanan fisik lainnya dapat menjadi pemicu.

Bagaimana Stres Memengaruhi Jantung?

Penyebab pasti kondisi ini belum sepenuhnya diketahui. Namun, Mayo Clinic menjelaskan bahwa salah satu dugaan utamanya adalah lonjakan hormon stres, seperti adrenalin, yang terjadi secara tiba-tiba ketika seseorang mengalami tekanan berat.

Lonjakan hormon tersebut diduga dapat mengganggu fungsi otot jantung. Perubahan sementara pada pembuluh darah jantung juga dapat berperan.

Inilah yang membuat hubungan antara kondisi emosional dan kesehatan jantung menjadi lebih kompleks daripada sekadar “perasaan”.

Apa Gejalanya?

Gejala biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat menyerupai serangan jantung, antara lain:

  • Nyeri dada.
  • Sesak napas.
  • Pingsan.
  • Denyut jantung yang cepat atau tidak teratur pada sebagian kasus.

Karena gejalanya mirip dengan serangan jantung, nyeri dada yang baru muncul tidak boleh langsung dianggap hanya akibat stres atau patah hati.

Apa Bedanya dengan Serangan Jantung?

Perbedaan penting terletak pada penyebabnya.

Pada serangan jantung, biasanya terdapat penyumbatan pada pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung. Sementara itu, pada Broken Heart Syndrome biasanya tidak ditemukan penyumbatan signifikan pada arteri koroner, meskipun fungsi jantung dapat mengalami gangguan sementara.

Untuk membedakannya, dokter dapat melakukan pemeriksaan seperti EKG, pemeriksaan darah, ekokardiogram, angiografi koroner, atau MRI jantung, sesuai kebutuhan.

Apakah Bisa Sembuh?

Kabar baiknya, Broken Heart Syndrome umumnya bersifat sementara. Banyak pasien dapat mengalami pemulihan fungsi jantung dalam waktu relatif singkat, bahkan sekitar satu bulan. Namun, kondisi ini tetap dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal jantung, gangguan irama jantung, tekanan darah rendah, atau terbentuknya bekuan darah.

Pengobatan disesuaikan dengan kondisi pasien dan dapat melibatkan obat-obatan untuk membantu mengurangi beban kerja jantung atau menangani komplikasi yang muncul.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami nyeri dada atau sesak napas secara tiba-tiba, jangan mencoba mendiagnosis diri sendiri sebagai sedang mengalami stres atau patah hati. Gejala tersebut dapat menandakan Broken Heart Syndrome, serangan jantung, atau kondisi medis lainnya yang membutuhkan penanganan segera.

Referensi:

  • Mayo Clinic. Broken heart syndrome — Symptoms and causes. Updated June 3, 2026.
  • Mayo Clinic. Broken heart syndrome — Diagnosis and treatment. Updated June 3, 2026.

Informasi dan Pendaftaran Customer Care


Klinik Utama Rawat Jalan Gleneagles
Jl. Taman Ade Irma Suryani Nasution No. 5 Surabaya
Phone. (031) 5455470
WhatsApp. 081334534535

Laboratorium Utama Trisensa
Jl. Embong Tanjung No. 4 A Surabaya
Phone. (031) 5465465

Oleh : Rhemanda Ivena Dinata, A.Md.Bns
Disunting oleh: Dr. dr. Herni Suprapti, M.Kes